Melihat dari Sudut Pandang Kita

Sering kita jumpai nasehat-nasehat yang berisi tentang apa yang harus kita lakukan. Tidak jarang pula kita sampaikan nasehat-nasehat tersebut kepada orang lain. Ketika menyampaikan kepada orang lain, menurut saya, secara umum orang akan fokus kepada lawan bicara. Maksudnya adalah bahwa orang tersebut menyuruh atau mengharapkan lawan bicaranya melakukan isi nasehatnya. Apa yang salah dari hal tersebut? Tidak ada. Tidak ada yang salah dengan perilaku seperti itu. Akan tetapi, sekarang coba kita lihat isi beberapa nasehat yang mungkin pernah atau akan kita sampaikan kepada orang lain dengan sudut pandang yang berbeda.

Pertama kita lihat satu lagu nasehat yang populer: Tombo Ati. Kita lihat salah satu poin: Berkumpul dengan orang shalih. Saya pribadi secara refleks akan menangkap bahwa seseorang harus mencari orang shalih atau komunitas orang-orang shalih sebagai obat bagi hatinya. Jika kita lihat dari sudut pandang lain akan kita dapatkan pertanyaan: “Sudahkah kita menjadi orang shalih yang dapat menjadi obat bagi orang-orang terdekat kita?”. Jangan sampai kita ternyata adalah orang yang menjadikan hati orang terdekat kita sakit.

Kita lihat yang lain.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, [3:133]

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. [3:134]

Kita lihat poin “menahan amarah” dan “memaafkan manusia”. Nasehat ini mungkin akan kita sampaikan kepada orang lain yang sedang marah supaya ia menahan amarahnya dan memaafkan orang yang berbuat salah. Dari sudut pandang lain kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah saya yang membuat marah dan berbuat salah kepadanya?”, “Jika saya salah, apakah saya sudah meminta maaf kepadanya?”. Tidak lucu ketika kita meminta orang lain untuk menahan marah tetapi kita terus saja memancing kemarahannya.

Pada intinya adalah introspeksi/muhasabah dengan apa yang kita katakan dan kita perbuat. Jangan sampai kita menawarkan solusi kepada orang lain sedangkan kitalah sebenarnya sumber masalahnya dan ternyata kita belum berhenti menjadi sumber masalah.

Kalau pembaca punya contoh nasehat yang lain, mohon kesediaan pembaca untuk berbagi dengan saya dan pembaca lainnya. :)